Lynx menyeringai sinis sambil menatap pria tua di hadapannya. Milo, gurunya, memang bukan seorang kultivator. Tapi dia adalah orang pertama yang mengajarkannya cara mengendalikan kekuatan. Bagi Lynx, Milo bukan hanya guru, tapi juga keluarganya. Karena itu, dia tidak bisa tinggal diam ketika seseorang menghina pria itu. Terlebih lagi, sejak menginjakkan kaki di lantai tiga, Lynx merasakan keganjilan yang sulit dijelaskan. Ada formasi di sana, pola yang samar namun familiar, sangat mirip dengan segel jiwa, sebuah metode untuk mengurung roh seseorang.

"Aku tidak mau berdebat denganmu. Peringatan ini kuberikan supaya kamu tahu, aku bisa menyentuhmu, dan tentu saja, aku juga punya cara untuk menghancurkanmu kalau masih berani menghina guruku" ancam Lynx dengan suara dingin. Ia membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Lynx tahu pria tua itu tak akan mau menjelaskan apa pun tentang dunia surgawi. Penyesalan muncul di dadanya. Ia sadar telah terbawa emosi saat berhadapan dengan orang itu.

"Perkataannya tentang dunia surgawi membuatku lengah. Mengetahui ada kemungkinan seseorang memiliki kekuatan setara denganku, bahkan mungkin lebih. Tapi sekarang belum saatnya aku memikirkan mereka. Aku harus fokus menemukan suku Surya dan kembali pulang bersama Leena. Aku akan mendatangi tempat ini lagi lain waktu." batin Lynx.

Qian Xu menatap punggung Lynx yang menjauh. Wajahnya yang awalnya tenang berubah gelap, amarahnya mulai mendidih.

"Setelah datang ke tempat ini, apakah kamu pikir bisa pergi begitu saja?" raungnya.

Dari lantai formasi, suara gemeretak muncul. Pola-pola bercahaya muncul dan merayap cepat seperti ular yang terbangun. Dalam sekejap, rantai-rantai spiritual berpendar keluar dari pusaran formasi dan melesat ke arah Lynx.

Rantai-rantai itu melilit tubuh Lynx dalam sekejap, pergelangan tangan, kaki, bahkan lehernya terkekang oleh energi padat yang bersinar biru keunguan, simbol kuno berdenyut di sepanjang panjang rantai itu.

Lynx menghentikan langkahnya. Ia tidak melawan, tapi kepalanya sedikit menoleh, menatap Qian Xu dengan sorot mata yang tetap dingin.

"Apa maksudmu dengan ini?" tanyanya datar.

Qian Xu mengangkat satu tangan, dan rantai-rantai itu berderak keras, mencoba menyeret Lynx kembali ke tengah formasi. Namun tubuh Lynx tidak bergeming, bahkan satu jengkal pun.

"Awalnya aku ingin membuatmu lebih kuat... menjadikanmu wadah untuk melawan musuhku di dunia surgawi," kata Qian Xu, suaranya mengandung dendam dan kelicikan yang membusuk selama ribuan tahun. "Tapi kau menolakku. Kini aku tidak punya pilihan. Aku akan merebut tubuhmu!"

Ia menarik keras rantai-rantai itu. Cahaya formasi bergetar. Ruangan berdesing karena energi besar yang dikerahkan. Tapi meski kekuatan Qian Xu menggelegak seperti gunung meletus, tubuh Lynx tetap berdiri tegak, tidak tergoyahkan.

Mata Qian Xu melebar. "Apa?! Tidak mungkin!"

Ia menggertakkan gigi dan mengerahkan lebih banyak kekuatan, kedua tangannya menggenggam udara seolah menarik tali kendali tak terlihat. Qi spiritual yang terpancar dalam tubuhnya berdenyut, mengerahkan seluruh sisa kekuatan jiwanya. Tapi tetap saja, Lynx tak bergerak.

"Dengan kekuatanmu saat ini, apa kau pikir bisa memaksaku?" suara Lynx terdengar tenang. "Aku tahu kamu tidak bisa keluar dari pagoda ini, bukankah begitu? Selama ribuan tahun jiwamu terkurung di tempat ini."

"Darimana kamu mengetahuinya?" Qian Xu merasa kaget. Dia tidak menduga jika pemuda di depannya bisa mengetahui rahasianya.

"Apakah kamu pikir aku tidak akan mengetahui jika kamu terkurung dan tidak bisa melewati pembatas tempatmu berdiri sekarang. Itu sebabnya kamu menginginkan tubuhku." Kata Lynx dengan senyum sinis.

"Tatapan Qian Xu berubah liar. Ia sadar Lynx sudah mengetahui kelemahannya.

"Diam!! Aku akan..."

"Kau tidak akan melakukan apa-apa," potong Lynx.

Dengan satu gerakan halus, ia menarik lengannya ke samping. Rantai yang melilit tubuhnya bergetar keras, lalu… CRAAANGG! meledak pecah oleh kekuatan fisiknya. Potongan-potongan rantai spiritual itu terpental ke udara, lalu menguap menjadi cahaya di sekeliling mereka.

Qian Xu terpaku. Napasnya terengah, tubuh jiwanya mulai bergetar, tanda bahwa jiwanya terkena efek akibat kekuatan yang ia gunakan membentuk rantai berbalik menyerangnya.

Sebelum Qian Xu sempat menarik napas, sosok Lynx telah menghilang dari tempatnya berdiri. Angin berdesing, dan dalam sepersekian detik, Lynx sudah muncul tepat di hadapan Qian Xu. Lynx berdiri hanya beberapa inci dari garis formasi yang memisahkan roh tua itu dari dunia luar. Kekuatan gerakannya sangat cepat, seperti teleportasi singkat, namun tanpa jejak aura.

Qian Xu terkejut. Meski dirinya terlatih membaca gerakan kultivator tingkat tinggi, ia tak mampu mengikuti pergerakan Lynx barusan. Wajahnya mengeras.

Lynx menatap lurus ke mata roh tua itu. Tatapannya tenang, nyaris tanpa emosi, namun mengandung tekanan kuat yang menusuk lebih dalam dari bilah pedang mana pun.

"Tunggulah di sini terlebih dahulu," katanya pelan, namun tegas, "Setelah urusanku selesai, aku akan menemuimu lagi."

Qian Xu menatap Lynx dengan tajam, matanya menyipit. Tidak lama, tawa kecil lolos dari bibirnya.

"Hahaha... sungguh mengagumkan." Ia mengangkat tangannya yang masih bergetar. Aura jiwanya terlihat sedikit tidak stabil, sisa dari energi besar yang dihabiskan untuk mengaktifkan rantai spiritual barusan. "Ternyata tubuhmu... melebihi semua perkiraanku. kau benar-benar dilahirkan untuk dunia surgawi."

Wajahnya perlahan berubah bengis.

"Aku semakin menyukainya," gumamnya.

Tatapannya berubah tajam, seperti ular yang hendak menyergap mangsanya.

"Kau hanya punya dua pilihan sekarang," lanjutnya, suaranya berubah menjadi dingin seperti batu nisan, "Serahkan tubuhmu kepadaku secara sukarela... atau aku akan membunuh kedua wanita cantik yang menunggumu di lantai satu."

Lynx membeku sesaat. Sorot matanya tak berubah, namun dalam hatinya, hawa dingin menjalar cepat.

"Ternyata dia bisa mengetahui keberadaan Leena dan Lala, jadi selama ini dia bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam pagoda. Aku yakin ancamannya bukan sekadar gertakan." batinnya.

Dengan cepat, lynx meraih leher Qian Xu. Dia menyipitkan mata, suaranya tajam bagai bilah baja yang menggores udara.

"Kalau kau berani menyentuh mereka... aku tidak akan membiarkan jiwamu berkeliaran seperti ini. Aku akan menghapusmu di sini dan sekarang."

Namun bukannya panik atau kesakitan karena cengkeraman Lynx di lehernya, Qian Xu malah tersenyum lebar. Senyum itu bukan senyum seorang yang terdesak, melainkan seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini.

"Dasar bodoh," gumamnya dengan suara serak dan dingin, "Seharusnya kamu tahu, aku tidak bisa menguasai tubuhmu selama kau berdiri di luar formasi. Tapi sekarang… kau datang sendiri ke tempat yang sempurna."

Lynx menyipitkan mata, mulai menyadari ada yang tidak beres. Tapi Qian Xu tak memberinya waktu untuk mundur.

"Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku. Aku yang menyelamatkan nyawa temanmu. Lelaki dengan dada berlubang yang hampir mati itu… apakah kamu pikir dia bisa bertahan hanya dengan masuk ketempat ini? Dia tidak akan bisa tidur di atas batu giok itu dengan tenaganya sendiri. Aku yang mempertahankan hidupnya…."

Lynx terkejut. Sekilas bayangan Kael melintas dalam pikirannya, saat ia menemukan Kael masih hidup di dalam pagoda. Saat itu ia hanya berpikir energi pagoda dan batu gioklah yang menyelamatkannya. Tapi kini…

"Kau...?" gumam Lynx.

Qian Xu menyeringai. "Awalnya, aku ingin menjadikannya budakku. Membantuku menemukan tubuh yang cocok untuk wadahku. Tapi kau… kau jauh lebih sempurna."

Seketika, tubuh roh Qian Xu bergetar dan berubah menjadi kabut pekat, menyelimuti tangan Lynx. Kabut itu kemudian melesat masuk ke dalam pori-pori, merayap ke dalam daging dan darah, meresap menuju inti tubuh Lynx.

"TIDAAK!" Lynx berusaha melepaskan diri, tapi sudah terlambat. Suara tawa Qian Xu menggema keras di dalam pikirannya, mengguncang seperti gaung petir dalam ruang hampa.

"Hahahaha! Ini tubuhku sekarang!"

Lynx terdorong mundur, dadanya berdebar hebat. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kepalanya terasa berat, seperti dihantam oleh seribu suara yang berebut mendominasi.

"Keluar… dari pikiranku…!" geram Lynx, mencengkeram kepalanya.

Dalam dimensi kesadaran batinnya, Qian Xu telah muncul sebagai siluet gelap, perlahan mengambil wujud. Ia berjalan menuju jiwanya yang bersinar terang dalam bentuk cahaya kristalin yang mengambang. Dengan tangan gelapnya, Qian Xu mencoba menembus inti jiwa itu, mencoba menghancurkannya dari dalam.

"Aku akan menghancurkan jiwamu, anak muda! Dan tubuh ini akan menjadi milikku selamanya!"

